Maros. Sebuah Catatan Reflektif yang ditulis Oleh Daeng Todjeng (Pemerhati sekaligus Pegiat Koperasi Kabupaten Maros), kamis (12/02/2026).
Bulan Februari ini menjadi momen penting bagi gerakan koperasi di Kabupaten Maros. Kita akan menggelar Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) untuk masa bakti 2026-2030.
Bagi sebagian orang, Musda mungkin hanyalah rutinitas organisasi lima tahunan untuk memilih ketua, menyusun pengurus, lalu selesai. Namun, bagi saya dan banyak pegiat koperasi lainnya, Musda kali ini adalah persimpangan jalan yang menentukan: ke arah mana "Rumah Besar" gerakan koperasi Maros ini akan kita bawa?
Di tengah tantangan ekonomi yang makin kompleks, koperasi di Maros tidak bisa lagi berjalan "biasa-biasa saja". Kita butuh Dekopinda yang hadir lebih dekat, lebih terasa, dan lebih memberi solusi.
Tanpa bermaksud menafikan kerja keras para pendahulu, harus kita akui dengan jujur, masih ada ruang-ruang kosong yang perlu kita isi dan diperbaiki bersama. Sebagai sumbangsih pemikiran, izinkan saya menawarkan beberapa gagasan sederhana untuk memperkuat pondasi Dekopinda kita ke depan.
Pertama, Anggaran yang Memuliakan Anggota. Roh dari koperasi adalah dari, oleh, dan untuk anggota. Maka, sudah sepatutnya postur anggaran Dekopinda mencerminkan hal itu.
Saya memimpikan sebuah Dekopinda yang berani menerapkan prinsip "Anggaran Berbasis Manfaat". Bayangkan jika ke depan, kita sepakat bahwa sebagian besar porsi dana iuran/pendidikan yang dihimpun dari gerakan, wajib kembali lagi ke gerakan.
Kembali dalam bentuk apa? Bukan tumpukan kertas laporan, melainkan dalam bentuk Pelatihan (Diklat) yang bermutu, sertifikasi kompetensi pengelola, hingga pendampingan hukum bagi koperasi yang sedang "sakit".
Biarlah pos operasional secukupnya saja, tapi pos pemberdayaan anggota kita maksimalkan. Dengan begitu, setiap rupiah iuran yang dikeluarkan koperasi primer, dirasakan kembali manfaatnya.
Kedua, Efisiensi dan Prioritas. Kita bangga bisa berpartisipasi dalam agenda nasional seperti Hari Koperasi Nasional (Harkopnas). Namun, di tengah keterbatasan sumber daya, kebijaksanaan dalam menentukan prioritas sangat diperlukan. Ke depan, partisipasi seremonial hendaknya dilakukan dengan prinsip "delegasi terbatas namun efektif".
Sumber daya yang ada sebaiknya kita geser untuk kegiatan substantif di dalam daerah yang menyentuh ratusan pengurus koperasi di pelosok Maros, daripada habis untuk biaya perjalanan segelintir orang.
Ketiga, Kepemimpinan yang Mengorkestrasi. Tantangan zaman now terlalu berat jika dipikul sendirian. Model kepemimpinan one-man show sudah tidak relevan.
Dekopinda masa depan membutuhkan "Super-Team", bukan "Superman". Siapapun nahkoda yang terpilih nanti, besar harapan kita agar fungsi bidang-bidang dioptimalkan.
Berikan kepercayaan kepada wakil-wakil ketua untuk berkreasi sesuai keahliannya. Inilah esensi kolektif kolegial yang sesungguhnya.
Menutup Catatan Tulisan ini hanyalah percikan pemikiran dari seorang yang mencintai gerakan ini. Siapapun putra-putri terbaik Maros yang kelak memegang palu pimpinan, harapan kami hanya satu: Jadikanlah Dekopinda sebagai organisasi yang melayani, bukan minta dilayani.
Selamat bermusyawarah, insan koperasi Maros. Mari kita jadikan Musda 2026 ini sebagai tonggak kembalinya marwah koperasi sebagai soko guru perekonomian daerah kita.
Bravo Koperasi!
