Oleh: Noorhalis Majid
Malam tadi kami semua yang hadir di Gedung Batas Kota Banjarmasin, merayakan 32 tahun LK3 (Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan). Bahkan, beberapa orang membersamainya sepanjang 32 tahun tersebut. Suatu lembaga kecil, awalnya bahkan hanya sekeder forum diskusi, dibentuk di ruang rapat dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari pada 18 Januari 1994. Setelahnya berkembang menjadi satu lembaga yang melakukan banyak hal, bukan hanya membangun literasi dan dialog, tapi juga pengkaderan, pemberdayaan dan penguatan berbagai kelompok, hingga membentuk komunitas-komunitas warga. Suatu upaya kontinyu, dalam menguatkan masyarakat sipil.
Banyak yang lahir, besar dan berproses bersama LK3. Kalau mau jujur, bukan hanya puluhan orang, bahkan ratusan. Setelahnya ada yang ingat, banyak pula yang lupa dengan LK3. Sekian lama bergelut di LK3 dengan berbagai pengalaman pengorganisasian, lantas berkiprah dan eksis di tempat lain. Dengan demikian, LK3 berhasil menjadi tempat belajar, saling menempa pengetahuan dan pengalaman, untuk memberi bekal pada banyak orang.
Dari sisi pengkaderan, LK3 itu seperti sebuah “panggung” yang diciptakan bersama. Pada panggung tersebut semua orang berproses menempa dirinya. Mesti disadari, sepintar apapun seseorang, kalau tidak memiliki “panggung”, sulit baginya mengekspresikan kepintaran tersebut. Bahkan, tanpa “panggung”, mungkin orang lain tidak akan tahu bahwa yang bersangkutan seorang yang pintar dan berbakat. LK3, sepanjang 32 tahun, sudah menciptakan banyak panggung, sehingga dengan panggung itu, banyak yang memiliki kesempatan untuk melatih dan mengembangkan dirinya.
Dari sisi pemberdayaan, LK3 sudah berhasil membangun dan melahirkan banyak kelompok masyarakat sipil, sebagai cara paling berbudaya dan beradab dalam memperjuangkan kepentingan warga. Merujuk nasehat Pramoedya Ananta Toer, “kalau ingin memerdekakan suatu bangsa, ajari mereka organisasi”. LK3 sepanjang 32 tahun, mengajari banyak komunitas tentang pentingnya berorganisasi. Mulai dari komunitas petani, komunitas UMKM, komunitas perempuan, komunitas anak muda, dan banyak komunitas lainya yang terus terinspirasi berorganisasi, sebagai cara memerdekakan diri dan memperjuangkan kepentingan bersama.
Malam tadi, Kang Wawan, dari Jakatarub Bandung dan Husnul Athiya, akademisi muda, diundang memberikan refleksi tentang Agama, Kebudayaan dan Konsolidasi Masyarakat Sipil. Suatu tema yang memang digeluti LK3 sepanjang 32 tahun ini.
Kang Wawan mengapresiasi upaya LK3 membangun dialog pada banyak orang yang berbeda. Bukan hanya berbeda usia, kepentingan dan budaya. Tapi bahkan berbeda agama. Tidak banyak organisasi seperti LK3 mau masuk ke wilayah hubungan antar agama, sebab risikonya disalahkan, bahkan dikafirkan oleh orang yang berpandangan sempit. Padahal agama dan budaya, mengajarkan untuk mengasah akal budi, agar menjadi manusia yang beradab, berbudi luhur, atau insan kamil.
Pengalaman LK3 yang sangat panjang, bukan lagi mengajarkan orang yang berbeda-beda tersebut untuk saling memahami satu sama lainnya, tapi sudah pada level membangun kerjasama, dan mengonsolidasikannya menjadi kekuatan masyarakat sipil.
Kerjasama antar agama, diperlukan agar kehidupan yang beragam ini, dinikmati dan dirasakan kedamaiannya secara bersama pula. Kerjaama hanya mungkin terjadi, bila interaksi dan perjumpaan terbangun secara intensif, dan pada posisi itulah konsolidasi masyarakat sipil terjadi, kata Kang Wawan.
Athiya bahkan mengaku mengenal LK3 sejak kelas 4 SD. Bersama kaka-kakanya yang juga aktif di LK3, sering hadir sejak ia masih belia. Walau kala itu tentu saja kurang begitu paham, namun sangat membekas. Terutama pengalamannya beriteraksi dengan kelompok agama yang berbeda.
Bagi Athiya, LK3 sangat berbeda dengan organisasi kebanyakan, sebab mampu membangun komunikasi pada kelompok-kelompok yang sejatinya sulit berkomunikasi karena perbedaan yang sangat prinsif lagi mendasar, bahkan perbedaan tersebut menuntut untuk saling berseberangan. Dengan dialog, LK3 mampu membangun jembatan persaudaraan. Peran tersebut sangat mungkin diteruskan oleh anak-anak muda, sebab kehidupan yang saling menghargai sangat diperlukan oleh agama apapun.
Malam itu, kami semua yang hadir, mensyukuri 32 tahun LK3, tentu bukan waktu yang sekejap. Sekarang ini, tantangan paling nyata yang harus diselesaikan, adalah hal-hal menyangkut persoalan internal. Pengkaderan, penataan manajemen yang transparan dan akuntabel, serta kemampuan berinovasi, berkreasi, agar terus eksis di waktu yang lebih panjang.
Mampu bertahan sepanjang 32 tahun, atau kelak hingga 100 tahun, memang suatu keajaiban, apalagi bila inovasi, kreatifitas, kerelawanan, kemitraan, dan kemandirian keuangan, tidak terus diasah dengan baik dan sepenuh hati. (nm)

