• Jelajahi

    Copyright © Sorotanmerahputih
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    ungan: Kekuasaan Hanyalah Titipan yang Pasti Berakhir

    Selasa, 28 April 2026, April 28, 2026 WIB Last Updated 2026-04-29T05:33:15Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

     





    OPINI: GAYO LUES-29 APRIL 2026:11:22 WIB.


    Di balik gemerlap jabatan, derasnya pujian, dan riuhnya penghormatan, ada satu kebenaran yang tak bisa disangkal: kekuasaan hanyalah titipan. Ia bukan milik abadi, bukan pula mahkota yang melekat selamanya. Hari ini seseorang bisa dielu-elukan, dipuja seolah tak tergantikan. Namun esok, semuanya bisa runtuh tanpa peringatan. Dan ketika itu terjadi, yang tersisa hanyalah jejak—bukan tepuk tangan.


    Sanjungan adalah ujian paling halus sekaligus paling berbahaya. Ia datang tanpa terasa, merayap pelan, lalu menjelma candu. Tidak semua pujian lahir dari ketulusan. Ada yang memuji karena berharap balasan, ada yang menyanjung karena kepentingan, dan ada pula yang setia hanya selama kekuasaan masih berada di tangan. Ketika kuasa pergi, mereka pun ikut menghilang.


    Sejarah tidak pernah kekurangan contoh tentang runtuhnya kesombongan. Jabatan bukanlah takhta abadi. Ia hanya persinggahan singkat di pundak manusia. Hari ini dihormati, besok dilupakan. Hari ini diagungkan, esok bisa dihujat. Roda zaman berputar tanpa kompromi—siapa pun yang lengah akan tergilas olehnya.

    Pepatah lama mengingatkan dengan sangat tajam:


    “Janganlah mau disanjung-sanjung, engkau digelar manusia agung. Sadarlah diri, tahu di untung, sebelum masa keranda diusung.”


    Ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan peringatan keras bagi siapa pun yang sedang berada di puncak: bahwa setinggi apa pun jabatan, ujungnya tetap sama—kembali tanpa membawa apa-apa selain amal dan nama.


    Ironisnya, justru di puncak kekuasaan banyak yang kehilangan kesadaran. Mereka merasa tak tergantikan, kebal kritik, bahkan alergi terhadap kebenaran. Nasihat dianggap serangan, kritik diposisikan sebagai ancaman. Sementara pujian dipelihara, penjilat dipeluk, dan suara rakyat perlahan dibungkam. Di titik itulah kejatuhan sesungguhnya dimulai—bukan saat jabatan berakhir, tetapi saat nurani berhenti bekerja.


    Pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa tinggi ia dipuja, melainkan seberapa kuat ia menahan diri dari godaan pujian. Ia tetap rendah hati di puncak, tetap membuka telinga pada kritik, dan tetap berdiri di pihak rakyat ketika tekanan datang dari segala arah. Sebab kekuasaan bukan untuk dinikmati, melainkan untuk dipertanggungjawabkan.


    Rakyat hari ini tidak lagi mudah diperdaya. Mereka mampu membedakan mana kerja nyata dan mana sekadar sandiwara citra. Sanjungan bisa direkayasa, popularitas bisa dibeli, tetapi kepercayaan tidak bisa dipalsukan. Ia hanya lahir dari kejujuran, keberanian, dan keberpihakan yang nyata.


    Karena itu, siapa pun yang hari ini sedang berada di kursi kekuasaan, ingatlah: jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berlalu, dan waktu tidak pernah memberi kesempatan kedua. Yang akan dikenang bukanlah seberapa tinggi kursi yang pernah diduduki, tetapi seberapa adil keputusan yang diambil, seberapa tulus pengabdian yang diberikan, dan seberapa besar manfaat yang diwariskan.


    Pada akhirnya, hidup bukan tentang berapa banyak pujian yang diterima, melainkan tentang bagaimana nama tetap harum ketika raga telah tiada. Saat keranda mulai diusung, semua gelar, jabatan, dan kemewahan akan tertinggal. Yang ikut hanyalah amal, integritas, dan kenangan di hati manusia.


    Maka sebelum semuanya terlambat, sebelum waktu mengambil kembali apa yang hanya dipinjamkan, berhentilah sejenak—bercermin. Rendahkan hati, luruskan niat, dan gunakan amanah untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat. Karena kehormatan sejati bukanlah saat disanjung ketika berkuasa, melainkan ketika tetap dihormati bahkan setelah segalanya tiada.

     (5411180>Rauf ARIGA)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini