MAKASSAR — Maraknya aktivitas geng motor dan aksi kekerasan yang melibatkan kalangan remaja di Kota Makassar menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan seluruh elemen masyarakat. Kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa dan jatuhnya korban luka menegaskan bahwa persoalan konflik pelajar dan kepemudaan membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar keprihatinan dan saling menyalahkan.
Kepala Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan Kota Makassar, Muhajir, secara tegas menyerukan kepedulian bersama untuk mencegah semakin banyaknya korban serta menyelamatkan generasi muda dari pergaulan negatif. Ia juga menantang Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), seluruh kepala SMP, dan organisasi Atlantara untuk membuktikan peran serta kontribusi nyata dalam mengatasi persoalan tersebut.
Seruan itu disampaikan dengan semangat khas Makassar, “Wattunami Appa Tujui Makassar!”, sebuah ajakan agar semua pihak berhenti berwacana dan mulai menunjukkan tindakan konkret demi masa depan generasi muda.
Muhajir: Kami Tidak Mau Semakin Banyak Korban
Muhajir menegaskan bahwa persoalan kekerasan remaja bukan semata-mata menyangkut citra sebuah kota atau nama baik suatu kelompok, melainkan menyangkut masa depan anak-anak dan generasi penerus bangsa.
“Kami jelas tidak mau semakin banyak korban. Kami juga tidak rela anak-anak kami terjerumus dalam pergaulan negatif. Masa depan bangsa dan Kota Makassar ini, gambaran ke depannya adalah kondisi pemudanya hari ini. Mau dikenal sebagai apa bangsa ini nantinya?” tegas Muhajir.
Ia mengingatkan bahwa perhatian terhadap generasi muda harus melampaui persoalan citra dan reputasi. Hal yang jauh lebih penting adalah memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, memperoleh pembinaan yang baik, dan memiliki masa depan yang lebih menjanjikan.
“Bukan juga soal citra dan sebatas nama semata. Tapi persoalan kehidupannya, keturunan ta, kondisinya ke depan bagaimana?” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan kekerasan di kalangan remaja tidak dapat diselesaikan hanya dengan tindakan sesaat. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, pengawasan bersama, serta pembinaan karakter yang menyentuh kehidupan pelajar, baik di sekolah, keluarga, maupun lingkungan pergaulannya.
“Kalau Bukan Ki Saling Membantu, Siapa Pale Lagi?”
Muhajir juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan solidaritas dan kepedulian dalam menghadapi persoalan kepemudaan. Menurutnya, situasi saat ini bukan waktunya untuk mempertajam perbedaan atau berlomba menunjukkan siapa yang paling hebat.
“Kalau bukan ki saling membantu, saling peduli, saling sayang, siapa pale lagi kasian? Bukan mi waktunya saling menyalahkan, bukan mi juga soal siapa paling jago. Tapi bagaimana kemuliaan hati ta dan peran ta yang nyata,” ujarnya.
Pesan tersebut menekankan pentingnya mengubah kepedulian menjadi tindakan. Keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas pemuda, dan organisasi masyarakat diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi membangun kerja sama untuk mencegah kekerasan dan menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak.
Menurut semangat yang disampaikan Muhajir, keberanian sejati bukanlah kemampuan menunjukkan kekuatan melalui konflik, melainkan kesanggupan mengambil tanggung jawab dan menyelesaikan persoalan yang mengancam keselamatan generasi muda.
“Wattunami Appa Tujui Makassar!” MKKS dan Kepala Sekolah Ditantang Beraksi
Muhajir secara terbuka menantang MKKS dan seluruh kepala sekolah SMP di Kota Makassar untuk memperkuat peran pendidikan karakter dan menghadirkan inovasi yang mampu menjawab persoalan perilaku berisiko di kalangan pelajar.
“Wattunami Appa Tujui Makassar! Kalau memang mau kasih lihat jago ta, kasih lihat mi di sini bagaimana jago ta kasih selesai dan mana peranta selesaikan ini masalah,” tegasnya.
Ia kemudian mengarahkan tantangan tersebut kepada para kepala sekolah dan MKKS agar tidak berhenti pada pernyataan kepedulian.
“Saya ini Kabid SMP tantang kepala sekolah, MKKS juga harus berperan aktif. Apa inovasi ta, mana peran dan kepedulian? Jangan hanya bicara peduli, baru tidak ada aksi,” lanjut Muhajir.
Tantangan ini menjadi dorongan bagi satuan pendidikan untuk menghadirkan program yang lebih konkret dan relevan dengan kehidupan peserta didik. Pendidikan karakter perlu diterjemahkan melalui pembinaan kedisiplinan, pendidikan antikekerasan, pelatihan kepemimpinan, konseling, penguatan kegiatan ekstrakurikuler, serta pembentukan komunitas pelajar yang positif.
Sekolah juga diharapkan memperkuat komunikasi dengan orang tua, mendeteksi lebih awal perubahan perilaku peserta didik yang membutuhkan pendampingan, dan membangun koordinasi dengan pihak terkait apabila ditemukan potensi konflik.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang aman untuk membangun karakter, mengembangkan potensi, dan membentuk generasi yang mampu menyelesaikan perbedaan secara bermartabat
(((( Robby Rambi ))))
